3.13.2012

Nirmana Award: Tak Senirmana Namanya

Ruang yang Masih Sepi
Sepertinya, roadshow yang baru saja dilangsungkan beberapa belas jam lalu cukup memancing memori otak saya mengenai brand activation yang pernah dilakukan saat pertamakalinya saya mendapatkan flyer open-admission kontes desain Gantibaju.com. Yaitu usai mengikuti Talkshow mengenai Branding di salah satu tempat makan di Blok M oleh mahasiswa DKV Universitas Tarumanegara liburan lalu. Sebagai sebuah gerai online yang baru berumur 2 tahun, langkah gantibaju.com memperkenalkan Nirwana Award dapat dikatakan cukup jauh, bisa jadi ini bukan sekedar melangkah namun lompatan. Ia pula yang menginspirasi saya saat merancang tampilan muka web Mukaku saat mata kuliah Ergodesain dulu.


Singkat cerita, sempat pada suatu saat, terdapat masa dimana saya merasa betapa sebagai mahasiswa desain, jarang sekali saya rasakan atmosfir persaingan-antar-institusi-desain yang jika di masa sekolah dulu, saya anggap sebagai sesuatu yang bahasa kekiniannya: sangat high culture. Saya baru sadar bahwa bahwa saya pernah ingin masuk ke dalam jejaring kompetisi-kompetisi tersebut, dan tiba-tiba saja, waktu telah mencapai setengah masa perkuliahan dan saya tahu bahwa saya harus meneruskan keinginan itu sebelum terlambat.


Untuk itulah, setelah sempat kecewa menyadari betapa tidak ada satupun mahasiswa ITS yang disebutkan namanya dalam Caraka Festival, saya pun mulai merubah mindset-dalam-browsing saya menjadi yang dirasa lebih bermanfaat. Hingga disitulah saya menemukan beberapa award ataupun kontes yang telah saya masukkan ke dalam resolusi saya tahun ini. Ya, Nirmana Award yang saat itu masih Coming-soon adalah salah satunya.


Saya si rompi Coklat :P
Pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya pihak Nirmana Award mendatangi kampus kami, tepatnya di ruang Audio Visual Studio 103 Despro, dan – walau diselingi sedikit insiden di mata kuliah Metode Riset  dengan cepat kami langsung mendatangi ruangan seperti semut yang mencium bau gula. Beberapa orang yang cukup-inspiratif telah mewarnai ruangan yang tidak terlalu besar jika diasumsikan sebagai sebuah auditorium itu. Dimulai dari founder gantibaju.com, Anang Pradipta dengan presentasi-motivasionalnya mengenai Agent of Return-nya, lalu Pak Tulus Jaya dengan materi-diferen-nya tentang kertas, dan terakhir, walau  dengan konsep hape-terjelek-nya dan ideologi jangan-mau-dibayar-nol-rupiah-nya yang menurut saya kurang relevan, mas Febry pun tampil dengan slide ADGI Surabaya Chapter-nya yang desainnya bagus. Tapi tenang saja, ini tidak mengubah niat saya untuk menjadi member kok. Oh iya, dan last but not least Pak Ramok sebagai Moderator, juga sebagai yang menurut saya lebih tepat menjadi speaker dari ADGI. (Yes, with offense, hehe :P)


Pada intinya, event atau ajang apresiasi desainer muda bertajuk "Warna Kreasi Indonesia" ini hendak "mengangkat derajat" para desainer, khususnya yang masih muda untuk dapat menghargai karyanya dan dapat struggling di tengah lautan komoditas. Adapun Kompetisi ini dibagi menjadi beberapa lini, yaitu:


  • Ilustrasi
  • Digital Imaging
  • Tipografi
  • Motion Graphic
  • Comic Strip
  • Desain Kaos


Call for Entry dapat dilakukan hingga 29 April, lalu dilanjutkan Public Vote hingga 24 Mei, Pameran Karya dan Offline Public Vote selama seminggu hingga 27 Mei, dan awarding night di mall favorit saya yang merebut hati... , maksud saya, mata saya sejak awal memandangnya, fX Lifestyle X'nter di tanggal 26 Mei :)


Ayo ikutan, dan daripada bilang "Banzai", atau "Ciayo" yang udah jadul itu, lebih baik sama-sama bilang, "Man Jadda Wa Jadaa!" ^^


Sponsorship-kit untuk peserta


Tentang Tjahjono Abdi – Kata Siapa Desainer Bukan Seniman


Yogyakarta, satu kota yang selalu produktif "menempa" pekerja  bahkan pemikir  kreatif, pernah memiliki seorang Tjahjono Abdi. Seorang individualis yang seringkali  sambil terdengar musik Beethoven  terlihat sedang menggoreskan kuasnya membentuk lukisan abstrak ekspresionis dari balik pintu lewat lubang kunci kamarnya saat masih menjadi "murid" di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) di tahun '72.
Karena ketidakpuasannya terhadap sistem pendidikan yang menurutnya tidak signifikan, Ia yang sempat melanjutkan studinya di LPKJ alias IKJ, meninggalkannya untuk kemudian bekerja di biro-biro reklame di Jakarta saat itu, yang dengan supelnya menggarap projek-projek advertising hingga ditemukanlah sebuah kunci untuknya memasuki pintu dunia desain, yang berlanjut saat ia bekerja menjadi Visualizer di biro periklanan daerah Tanah Abang, Matari  .
Selain mendirikan studio desain grafis Citra Indonesia, pria kelahiran tahun 1952 ini pernah duduk di seksi publikasi dalam menangani publikasi pameran IPGI, cikal bakal berdirinya ADGI. Hingga disitulah ia berhasil membranding dirinya sebagai seorang desainer, dengan segala pengertiannya.
Sebelum akhirnya wafat pada tahun 2005, Tjahjono telah mendapatkan beberapa penghargaan seperti Certificate of Excellent dari Clio Award, kemudian dari Mitshusita–National Award untuk design kalender, 10 design poster terbaik Lomba Poster Perdamaian International UNESCO, Finalist Award dari New York Advertising Festival, serta 10 karya terbaik lomba re-design logo ASEAN (tidak ada pemenangnya, jadi hadiah dibagi ke 10 karya terbaik). Selama di Matari Advertising, ia juga telah beberapa kali memenangkan lomba iklan Citra Pariwara.

Pada akhirnya, dapat disimpulkan betapa estetika visual tak dapat dipisahkan dari sebuah makna perancangan. Seperti halnya Teori Plato tentang Bumi-Datar yang 37 tahun kemudian dipatahkan oleh Aristoteles, saya rasa, diferensiasi seniman dan desainer hanya berhubungan dengan kepentingan-kepentingan tertentu, yang masih merupakan sebuah mitos yang akan terus berkembang. Karena "mengkotak-kotakkan" hanyalah sebuah "produk" modernitas. 

3.06.2012

Secuil Inspirasi dari Mayumi Haryoto

Entah kenapa, namanya langsung terbersit saat pertama saya memikirkan artikel apa yang harus saya susun sebagai artikel pertama. Sejujurnya, saya masih belum mendapatkan insight spesifik terhadap ilustrator blasteran Indonesia - Jepang ini, namun sepertinya, sebagai juri lomba Poster L.A. Lights Campus Edutainment yang pernah saya ikuti, privileges-nya untuk memilih orang lain sebagai pemenang terus menghantui alam bawah sadar saya untuk dapat menjadi sepertinya. Alasannya sederhana, karena kesamaan kami untuk tidak mengambil jenjang studi yang sama dengan teman-teman kami saat lulus SMA.

Menuju ke topik, ia telah mengembangkan sayapnya sejak umur 19 tahun, yaitu sejak ia lulus SMA dan mengikuti course Digital Studio di Jakarta.  Wanita kelahiran 1983 ini sempat meniti karir menjadi art director di sebuah advertising agency, lalu terlibat di film productionsvideo game, sampai record label, akhirnya Mayumi memfokuskan diri pada skill ilustrasinya yang dinilai memiliki style unik. Apalagi setelah memenangkan Best Album Cover AIMA 2009 di Malaysia untuk cover album SORE ‘Centralismo’, nama Mayumi semakin dikenal di dunia kreatif. Ia juga mendesain cover untuk album Ape on the Roof,Tika’s Defrosted Love Songs, dan poster film Pintu Terlarang, selain juga sesekali mendesain cover untuk majalah Concept dan menjadi pembicara seminar desain.
Mayumi juga memiliki website pribadi yang dapat di lihat di  http://mayumiharyoto.com/ juga portfolio online di Behance Network: http://www.behance.net/mayumiharyoto. Wah, sepertinya saya harus cepat-cepat Follow atau nge-add profilenya sebagai inner circle. SIapa yang tahu kalau diterima. Hehe...